Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ges!
Sebelumnya, aku mau ucapkann, untuk kamu yang sudah sampai ke
postingan ini, selamat! Karena dengan hadirnya kamu di
postingan ini, kamu satu tahap lebih maju. Yaitu ingin tahu, apa
pentingnya belajar dan di sini aku akan bahas lebih dari itu.
Postingan ini dibuat terkhusus adik-adik tersayang dan teman-teman
yang kehilangan motivasi belajar. Dan mungkin jadi bingung sendiri, kenapa juga
kita harus belajar?
sc : pinterest
Dari Teman
Postingan ini diawali dengan pertanyaan yang kerap kali aku dapatkan dari teman-teman, yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa tulisan ini dibuat, yaitu :
Emang sih ya, yang namanya semangat belajar tuh ada aja naik
turunnya, ada pasang surutnya yang bikin kita berpikir 'okay, I will take a
rest now' dan merasa perlu untuk ikut kegiatan-kegiatan yang nge-charge semangat
kita untuk belajar lagi.
It's okay, wajar kok untuk merasa jenuh ketika kamu melakukan sesuatu yang sama, terus menerus secara monoton. Semua orang
pasti pernah merasa jenuh, termasuk aku dan kamu. Wajar kalau kamu capek. Wajar
untuk merasa, kamu ingin rebahan nyaman sehari penuh, setelah seminggu lebih
malammu gak pulas karena harus begadang nugas ini itu. Atau yah istirahat kecil
sekedar minum kopi setelah beberapa jam mantengin buku, atau laptop..
Dari Gue
sc : pinterest
Hal pertama yang biasa aku sarankan ke teman-teman adalah ingat-ingat
lagi tujuan awal kamu. Gak apa-pa untuk istirahat, refreshing sesekali.
Karena, istirahat juga perlu kok dalam belajar. Malah di beberapa artikel
menyebutkan, belajar yang efektif itu ketika diselingi istirahat. Karena dengan
begitu, kita bisa lebih nangkep dan fokus sama apa yang kita pelajari. Untuk
artikel/video tips belajar efektif pasti banyak banget dan salah satunya yang
jadi favorit aku, kamu bisa lihat di channel Youtube Zahid.
Dan istirahat juga emang penting untuk mental health kita,
karena sejatinya ketika kita peduli tentang belajar, kita harus peduli juga
dengan personal time kita. Sehingga kita punya personal
life yang balanced, seimbang. Gapapa untuk istirahat
sejenak, asalkan ga lupa untuk nanti balik lagi. Istirahat ya, bukan
malas-malasan ges. Ingat lagi sama niat kamu belajar dari awal. Tujuan kamu
belajar apa? Misalnya nih, kamu mau kuliah ke luar negeri. Ketika males-malesan,
pikir deh, apakah dengan males-malesan, kamu bisa mencapai itu? Atau misal lagi,
kamu mau jadi lulusan terbaik di kampus, jadi mahasiswa berprestasi. Coba lihat
gaya hidupnya para lulusan terbaik itu, apakah mereka mencapainya dengan
malas-malasan?
Kalau lupa dengan tujuan kamu, bisa kamu tulis gede-gede impian kamu di atas
tempat tidur deh. Supaya pas rebahan, kamu lihat dengan jelas tujuan kamu dan semangat lagi. Istirahat
pasti kita butuhkan, tapi bukan alasan kita untuk malas-malasan.
Wiseman said, Rest is for people who work.
Jadi, istirahat itu setelah kita melakukan sesuatu yang produktif
ya, ges. Bisa banget kita tanamkan pemikiran ini, supaya kita ke-trigger untuk
produktif dulu, baru deh setelah itu istirahat.
sc : wikipedia
Salah satu teknik belajar berseling istirahat yang bisa kita pakai adalah teknik pomodoro atau pomodoro technique yang
bisa disesuaikan sama durasi yang kamu butuhkan. Dan menurut aku, ini lebih
baik daripada begadang semaleman, berjam-jam tanpa istirahat gitu kan. Yang ada
kita burn out, kecapekan, muak belajar. Muak belajar itulah yang ingin
kita hindari kan ges, makanya perlu juga untuk manipulasi dopamin.
Apa itu dopamin?
Sebenernya penjelasannya bisa lebih panjang tapi ringkasnya,
hormon dopamin itu hormon kebahagiaan yang bisa kita manipulasi untuk belajar
yang lebih efektif. Karena gak bisa dipungkiri, mood emang
ngaruh banget sama keefektifan kita belajar. Jadi ges, ingat, jangan
lupa istirahat.
Cara lainnya, bisa dengan membuat jadwal belajar.
Entah mau kamu jadwalin sehari belajar dua jam, sejam, atau 30 menit juga gapapa
asalkan kamu bener-bener disiplin dan konsisten dengan jadwal yang kamu buat.
Dan dalam membuat jadwal ini, jangan lupa untuk jadwalkan juga
istirahat kamu. Supaya nanti, ga ada alesan lagi ketika tiba waktunya
belajar.
Terkhusus teman-teman yang ikut organisasi, pasti masih ada juga
yang kebingungan gimana cara time management yang enak biar
semua jobdesc terlaksana, belajar juga ga keteteran. Nah,
membuat jadwal ini salah satu cara yang bisa lo aplikasikan supaya waktu
lo lebih tertata dan ga sia-sia. Banyak juga kiat-kiat lain untuk lo
biar bisa belajar lebih fokus, salah satunya bisa liat video yang gue liat di
channel Youtube-nya Zahid.
Atau ya ikut-ikut kegiatan motivasi, sharing sama
teman atau orang yang kamu kagumi (ehem bukan dikagumi dalam 'anu' loh
ya) itu juga perlu untuk menumbuhkan lagi motivasi dalam diri kita. Karena
namanya manusia ya kan, makhluk sosial, saling membutuhkan. Adakalanya kita
jadi penyemangat, adakalanya juga kita jadi yang butuh semangat, namanya
kehidupan itu berputar. Jadi, kamu pasti butuh teman-teman/lingkungan yang
bisa mendukung lo untuk tetap produktif.
Oke mungkin tips itu cukup untuk menjawab, ketika kasusnya
adalah semangat kita lagi down, atau butuh motivasi. It's
okay to take a rest, take a look back, what we've done dan inget lagi
sama tujuan awal kita. Udah sejauh ini, sayang kan kalau berhenti? Dan itu aku
rasa cukup banget sih, untuk bikin kita kembali bangkit, kembali
semangat.
Tapi tapi tapi ges, gimana kalau kasusnya males belajar
karena belum merasa butuh untuk belajar?
Dari Keluarga
Yah pandemi ini, secara sadar maupun gak sadar
sebenernya ngaruh banget sama pola belajar, utamanya anak-anak
sekolah yang masih pengennya main, main dan main. Itu juga yang aku alami,
lebih tepatnya adik aku.
Jadi cerita sedikit nih ya ges. Adik aku ada empat, tiga
diantaranya masih sekolah dan satu yang paling tua baru masuk perguruan tinggi.
Belakangan ini aku coba perhatiin pola belajar si adiks yang masih sekolah.
Kalau ada tugas dikerjain, ujian diikutin, tapi di luar itu belum ada dorongan
untuk mereka buka buku sekolah yang mereka bela-belain dateng ke sekolah untuk
ambil tumpukan buku itu. Sempet ada rasa kesel, kaya 'ya ampun dek
ngapain sih bela-belain ke sekolah di tengah pandemi, ambil buku bertumpuk-tumpuk,
yang ujung-ujungnya gak dibaca?'
Aku juga sempat merasa disentil, karena aku yang suka banget
belajar, tertarik banyak hal tapi kemudian dibilang sama ibu, "Kamu
itu ya Sil. Mbok ya adeknya ditularin semangat belajar.
Kamunya semangat belajar ini itu, kesana kemari, tapi adekmu sekolah aja
susahnya minta ampun"
Iya, selama sekolah online ini yang aku dan ibu
rasakan adalah susah banget untuk ajak mereka untuk mandi pagi, duduk rapi,
belajar dengan senang hati. Susah untuk ajak mereka lepas dari gadget,
dan ketika disita mereka marah-marah. Padahal alasan utama mereka dikasih gadget ya
sebagai modal untuk tetep belajar walau daring. Hiburan perlu, istirahat
perlu, healing perlu, tapi bukan berarti setiap saat setiap
waktu terpaku dengan itu.
Tapi di lain sisi juga aku sadar betul, terkait hal semacam ini
emang perlu kesadaran diri tentang pentingnya sekolah.
Pentingnya belajar tanpa rasa terpaksa, tapi karena memang merasa butuh. Coba
aja perhatiin ketika main game, mereka bakal belajar
tekniknya, belajar cara ngatur skill biar keren, belajar cara
hebat di game, tanpa rasa terpaksa. Tapi
kenapa mereka gak bisa melakukan hal yang sama untuk sekolah ini? Ini yang
bikin aku jadi penasaran, kenapa mereka males banget sekolah? Pastinya mereka
bukan satu-satunya pelajar yang mengalami ini. Di luar sana ada aja yang jadi
makin males dengan keadaan sekolah online gini, 'kan? Kenapa,
sih? Padahal kan sekolah itu penting, iya kan?
Karena awalnya postingan ini membahas tentang sekolah, tentang si
kecil yang gak betah sekolah, mau gak mau di sini aku jadi
menyoroti kegiatan inti dari sekolah, yaitu belajar. Karena
itu, ketika si aku bertanya-tanya kenapa mereka males untuk sekolah, si aku
jadi bertanya-tanya kenapa mereka gak mau belajar? Belajar itu penting,
kan?
Ketika aku masih bertanya-tanya dengan hanya melihat dari sudut
pandangku yang merasa senang belajar, susah untukku menemukan
jawabannya. Karena bagi aku, aneh aja gitu, ada orang yang ga
merasa butuh belajar, dan menjerumuskan diri pada hal sia-sia terus menerus.
Maka kemudian aku juga coba memposisikan diri sebagai mereka dan coba bertanya
balik ke seorang Misil. Kalau aku jadi mereka, yang bisa terus cari alesan
ketika dicekcokin pentingnya belajar segala macem, aku bakal tanya balik, "Emang
apa pentingnya belajar? Kenapa kita harus belajar? Untuk apa sekolah
12 tahun, disambung kuliah yang kadang bikin kita ngerasa salah
jurusan?"
Di titik inilah, aku mulai merenungkan kenapa gue ngerasa belajar
itu penting. Kenapa aku merasa menikmati belajar, merasa butuh belajar
sedangkan si kecil gak bisa merasakan itu. Dan itulah yang melatarbelakangi
tulisan ini. Topik ini menjadi hal yang menarik untuk dicari tahu. Semakin
berpikir tentang ini, semakin sadar. Motivasi belajar, tujuan belajar
itu penting banget untuk kita tata.
Perumpamaan
Sebelum lanjut, di sesi ini aku mau sedikit memaparkan pemikiranku, tentang
tipe pelajar di masa
sekolah/kuliah online ini.
Tipe yang pertama, yang udah tau tujuan dia belajar. Jadi yaa mau sekolah
online maupun offline, semangat belajar itu ada aja terus. Dia
tahu apa yang mau dia raih, langkah seperti apa yang harus dia ambil
untuk mencapai itu, dan gaakan ambil jalan pintas seperti
ketidakjujuran karena tau dampaknya untuk masa depan dia. Ya
istilahnya gak neko-neko deh, dia udah tau what is the best for her/him
now, what should he/she do, karena udah punya tujuan yang jelas.
Yang kedua, tipe yang belajar hanya atas rasa wajib karena
dia ada dalam sebuah lembaga sekolah/kampus. Jadi ya dia belajar, mengerjakan
tugas seperlunya. sekedar untuk menuntaskan kewajibannya sebagai pelajar. Ada
sedikit unsur keterpaksaan yang membuat dia belum begitu menikmati proses
belajar ini, jadi sekeras apapun dia berusaha, malah rasanya serba salah. Yang
penting tugas selesai, ujian dikerjakan, walau mungkin prosesnya dia kurang
dapet. Yang penting satu tujuannya, menyelesaikan sekolah dengan nilai
memuaskan. Yang penting selesai dan lepas dari rutinitas
menjemukan.
Mungkin sekilas keduanya beda banget ya, tapi sebenernya mereka
sama kok. Mereka sama-sama belajar untuk berusaha untuk mencapai
tujuannya. Jadi kalau ditanya kenapa kita belajar, pasti ada hal yang
ingin kita tuju, kita capai. Semua ini tentang tujuan belajar itu sendiri, apa
yang membuat kita bisa tergerak atau tidak tergerak untuk melakukan sesuatu,
untuk belajar sesuatu. Untuk apa kamu belajar?
Survei Kecil : Kata Mereka
Di awal Pebruari 2021, aku membuat survei kecil di story Instagram
untuk bertanya ke teman-teman mutual, menurut mereka belajar/sekolah itu
untuk apa. Beberapa jawabannya adalah :
- Tentu untuk
kebermanfaatan orang lain dan diri. Tidak lupa jg karena kita adalah
pemimpin di bumi-Nya. Jadi harus smart (minimal ada niatan untuk slalu
belajar) (NFS)
- Biar gak kalah
sama dunia (MAW)
- Menuntut ilmu
kan wajib bagi setiap muslim (MM)
- Karena hidup ini
butuh ilmu. Salah satunya ibadah. Tanpa ilmunya apakah kita akan ibadah.
Contoh kecilnya jalan. Tanpa dilatih mungkin kita tidak bisa (NAH)
- Karena dengan
belajar, kita belajar banyak hal yang belum tau jadi tau, yang paham jadi
lebih paham. (FA)
- Ijazah, nurut
pemerintah, sosialisasi (AID)
- Biar gak gabut (FL)
- Biar pinter (IM)
Ada juga seorang teman yang berpendapat panjang lebar yang
intinya, belajar itu cangkupannya lebih luas dan mau gak mau, sadar ga sadar,
belajar itu sudah, sedang, dan akan terus kita lakukan. Kita gaakan
pernah bisa berhenti belajar, karena hakikat manusia adalah belajar, untuk
menjadi seorang manusia seutuhnya tanpa disadari kita harus belajar (SL).
Oke, terkait jawaban mereka, aku ga akan komentar banyak. Karena kalau
kata Kak Glenn Ardi di artikelnya yang diposting di web
zenius, alasan seseorang untuk belajar, adalah hal yang pribadi &
juga sakral, namun juga fundamental untuk menjadi landasan kita untuk
berjuang. Jadi di sini, aku akan lebih menyoroti dari sudut pandang
diriku sendiri.
Kata Gue
Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan. -Phytagoras
Cukup yakin, kamu pernah baca kata-kata itu di suatu tempat, kan? Bukan, itu bukan kata aku seperti judulnya hehe, itu salah satu ucapan dari ilmuwan terdahulu yang pasti kita kenal juga sekarang. Belajar itu melelahkan, bahkan Bapak Phytagoras yang seorang ilmuwan bilang begitu. Tapi ia lebih memilih lelahnya belajar dibandingkan pahitnya kebodohan.
Perlu kita sadari bersama ges, belajar ini, seringnya dikonotasikan dengan nada
negatif. Terlalu serius, hanya untuk orang ambis. Sering banget, kata belajar ini
hanya diartikan secara sempit terbatas dalam hal yang mengarah pada akademik,
sekolah dan cenderung membosankan. Padahal belajar bukan hanya terkait hal akademik, gak hanya di
sekolah, dan gak membosankan ges, tapi lebih luas dari itu. Belajar itu proses kita untuk berubah
dan seringnya menjadi lebih baik. Secara sadar maupun ga sadar, seperti yang dikatakan seorang teman tadi, kita telah, sedang, dan akan terus melakukan proses belajar ini
karena itu yang dilakukan otak kita. Contoh sederhana udah dipaparkan tadi, dimana
ketika si adik ingin menang di game-nya, dia belajar dari berbagai
kekalahan yang dia terima. Dia belajar dengan liat-liat video orang yang upload
pengalaman main game-nya ke YouTube. Dia belajar. Kita semua
belajar. Terus, proses belajar itu untuk apa?
Bagi seorang Misil, belajar ini kaitannya erat sama apa yang ingin
kita capai. Entah itu cita-cita, jabatan, ijazah, pandangan hidup, pandangan
orang ke kita, banyak banget dan tiap orang beda-beda. Terkait
alasan belajar ini, kak Glenn sendiri pernah buat survei yang udah diisi banyak
orang dan bisa kamu liat di artikelnya nanti, aku taruh linknya di
bawah. Tapi intinya, apa yang ingin dicapai ini yang menentukan kamu bakal
belajar apa ngga, enjoy apa ngga, dan bakal belajar apa. Misal tadi,
sesederhana ingin menang main game, si adik belajar dari kesalahan,
cari-cari tutorial karena ada yang ingin dia capai, yaitu :
kemenangan. Dan sebenernya hal yang mau dicapai ini bisa dibilang erat
kaitannya sama tujuan hidup kita. Makanya penting banget untuk kamu, tanya
lagi ke diri sendiri. Apa tujuan hidup kamu?
Lah, kok jadi ke tujuan hidup?
Karena ges, bisa dibilang, tujuan hidup adalah visi jangka panjang yang kemudian bisa dibagi-bagi dalam serangkaian visi-visi kecil jangka pendek. Dan untuk menemukan/menyadari tujuan hidup kamu apa, itu juga butuh proses, salah satunya dengan belajar. Jadi ini saling berimplikasi gitu ges.
sc : google
Ketika mungkin awalnya, sebagai anak yang berbakti, yah kita
manut-manut aja ketika di sekolahkan oleh orangtua kita. Masuk TK, SD,
SMP, dan seterusnya, kita masih mengikuti alur dan setuju belajar itu penting.
Tapi belum menyadari tentang, kenapa belajar itu penting.
Seiring kita belajar di SD, mungkin di situ kita udah mulai
ditanya sama guru, cita-cita kamu apa. Atau malah udah sejak TK, kamu diarahkan
untuk menentukan tujuan hidupmu, tapi lebih spesifik dalam bentuk profesi.
Mungkin kamu akan bilang mau jadi dokter, guru, atau polisi. Atau mungkin anak
jaman sekarang udah ganti tren, ya? Pengen jadi youtuber, selebgram.
Ketika kamu udah tahu, apa yang mau kamu capai, di situlah ada trigger. Ada
pemicu untuk kamu melakukan suatu langkah untuk mencapai itu. Kalau mau jadi
dokter tuh harus pinter, jadi aku harus belajar. Kalau mau jadi polisi aku
harus keren, bisa olahraga, jadi aku harus belajar. Menyelesaikan sekolah
dasar, menengah, dan kemudian melanjutkan ke yang lebih khusus. Jadi, menurut si
Misil tujuan/motivasi belajar kamu, erat kaitannya sama tujuan hidup kamu.
Ini pandangan pribadi ya, kamu boleh setuju atau
ngga. Menurutku, semakin kita memiliki visi hidup jangka panjang yang besar,
semakin besar effort untuk
itu. Karena kita tahu kalau yang ingin kita capai lebih besar, usaha juga harus
lebih besar. Dan tentu ga mudah, ga
gampang, ga semulus perkiraan dan ekspektasi kita. Ada aja cobaan melanda, baik
berbentuk kegagalan, atau bahkan berbentuk hiburan. Ketika yang berbentuk
kegagalan, bisa membuat kita terpuruk dan takut untuk mencoba lagi karena takut
mengulang kesalahan, justru yang berbentuk hiburan ini seringnya lebih
berbahaya. Hiburan ini lebih sering bikin kita lupa dengan tujuan kita, karena
terlena kenikmatan sementara. Apalagi kalau tujuan kita masih sebatas visi
jangka pendek, misal sekedar lulus kuliah, atau dapet kerja yang enak, setelah
itu? Udah.
Contohnya ditipe pelajar yang disebutin sebelumnya, tipe pertama
ini aku anggap lebih punya visi jangka panjang. Bisa jadi dia punya cita-cita
yang ingin diraih, orangtua yang ingin dibanggakan, karir yang memuaskan, hidup
yang sukses dunia akhirat. Dia tahu mau jadi apa. Dia tahu apa yang
menanti di akhir, jadi dia menikmati tiap proses walau melelahkan. Sedangkan di
tipe kedua, dia masih belum tahu apa yang dituju dalam jangka panjang.
Dia masih mikirnya yang penting ini selesai, udah. Proses menuju selesainya itu
kurang dia nikmati karena memang belum paham prosesnya ini akan menjadikan dia
seperti apa di masa mendatang.
Beda loh, antara mempunyai visi hidup yang panjang kemudian dibagi-bagi
dalam visi-visi kecil jangka pendek, dengan punya visi jangka pendek, yang
setelah mencapai itu, mungkin kamu akan ngerasa udah cukup proses belajar kamu.
Dan bingung mau ngapain lagi karena belum merencanakan sejauh itu.
Padahal belajar itu proses seumur hidup.
Kata Gue : Keresahan
sc : google
Permisalan aja nih ya, secara umum, kita belajar untuk pintar, benar? Entah itu pintar berbicara, pintar desain, pintar gitar, kita belajar untuk jadi pintar dalam suatu hal. Lalu setelah itu, gimana kalau udah jadi pintar? Maka kemudian kita bisa bekerja, membuat karya, membuat lagu misal kalau kita di dunia musik. Terus bekerja atau berkarya untuk apa? Karena di hidup ini kita punya kebutuhan, butuh makan, butuh uang, maka secara otomatis kita mengarahkan hal yang sudah kita pelajari untuk bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya supaya hidup enak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Setelah hidup berkecukupan, lalu kita menikah punya anak, hidup bahagia gitu kan selama-lamanya. Lalu anak kita disekolahkan supaya menjadi pintar. Pintar untuk apa? Supaya bisa bekerja dan seterusnya mengulang dari awal.
Itulah siklus yang dimaksud, yang aku pikirkan tentang aku pribadi, dan yang aku gak setuju tentangnya. Aku gak setuju kalau belajarku, perjuanganku sampai sekarang ini sebatas untuk melanjutkan siklus yang bagi aku membosankan tersebut. Sekali lagi, ini pandangan pribadi ya ges, kalau menurutmu itu gak membosankan dan kamu menikmati itu, silakan. Aku gak melarang dan gak berhak untuk itu. Tapi bagi si Misil pribadi, aku gak terima kalau belajarku sebatas untuk melanjutkan siklus itu.
Jadilah dimulai peenlusuran ulang, aku coba untuk menelaah ulang diri sendiri. Mungkin, diri ini terlalu sering melihat kebanyakan orang di sekitar, sampai lupa untuk mendengar diri sendiri. Dan inilah penuturan diri dan hati seorang Misil.
Kata Gue : Jawaban
Sebagai muslim, tentu tujuan hidup kita adalah mencapai syurga. mencapai ridho-Nya.
Yah udah mulai bahas agama nih, gak asik
Iya, aku hargai pendapat kamu. Tapi aku juga yakin kalau teman-teman muslim membaca ini, kalian pasti setuju dengan kalimat di atas, kan? Islam itu gak bisa dipisah dari kehidupan kita guys, karena tujuan hidup kita untuk Allah, otomatis menjalani hidup ya dengan jalan yang ditetapkan Allah.
Tentang surga dan neraka, hal ini udah ditanamkan sejak kita TK mungkin. Atau sebelum TK, oleh orangtua kita, kita udah diajak berbuat baik biar dapet pahala, katanya. Ketika ditanya apa itu pahala, katanya itu tiket surga. Surga itu yang Allah janjikan untuk orang beriman. Kalau ga beriman neraka balasannya. Sebagai anak kecil yang masih percaya-percaya aja dan manut, maka aku berbuat baik, melakukan yang ibu bilang baik, menghindari apa yang ibu bilang buruk. Karena saat itu aku percaya, ibu lebih tau banyak hal. Walau mungkin masih ada masa-masa nakal karena sifat penasaran anak kecil, tapi sebisa mungkin diri ini patuh aja sama ibu.
sc : google
Ketika masuk SD, aku suka ketika melihat guruku yang mengajar
kelas dengan cara yang enak, komunikatif, dan saat itu bagi Misil, guru tuh
keren banget. Guru pertama yang membuat aku ingin jadi beliau adalah Bu Yusi,
guru kelas empat SD-ku. Aku ingin menjadi guru biar keren, kaya Bu Yusi. Jadi dari
situ, aku mulai mencari-cari tahu tentang guru. Mendengarkan lagu-lagu tentang
guru, membaca cerita-cerita tentang guru, membuatku semakin yakin. Aku ingin
jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Dulu 'kan sebutan itu keren banget bagi anak-anak
SD, ya.
Ketika memasuk putih biru, keinginan untuk menjadi guru semakin
besar, tapi bersamaan dengan itu, mendadak juga ingin jadi astronot. Biar bisa
liat bulan, kataku. Mungkin juga ada pengaruh teman ya waktu itu, haha. Lucu
banget kalau diingat lagi. Lalu aku juga ingin menjadi penulis dan komikus karena
di SMP ini aku mulai suka untuk menulis diary, mencoba gambar-gambar. Pengaruh
kakak juga ada banget sih waktu itu.
Memasuki SMA, dimana keluargaku pindah kota kali ini, aku tetap
ingin jadi guru. Tapi bersamaan dengan itu, aku juga ingin jadi banyak hal. Aku
ingin jadi dokter, pelukis, penulis, guru, sutradara film, ahli bahasa,
animator, penyiar radio, keyboardist dan saking banyaknya bikin diri sendiri
bingung ketika SNMPTN tiba. Kalau kalian mau tau, pertama kali disebar angket
SNMPTN, pilihan jurusanku kalau gak salah gini : Kedokteran, Matematika, Bahasa
Jepang, Televisi dan film. Aneh banget emang, random banget. Terlalu
banyak yang ingin aku tahu, yang ingin aku pelajari sampai aku juga bingung
sendiri.
Dan akhirnya memasuki kuliah, aku diterima di jurusan matematika.
Antara bersyukur tapi yasudahlah, karena memang, dari kecil aku juga suka dan
nyaman dengan matematika. Tapi di sisi lain, aku juga merasa masih banyak hal
lain yang ingin kupelajari. Tapi gapapa, kataku ke diri sendiri. Jurusan
lo, bukan batasan lo untuk belajar suatu hal, kan?
Lalu, apa yang aku jawab ketika ditanya setelah kuliah ini mau
apa? Jujur, aku gak tahu, buntu. Ada beberapa planning tapi
masih belum terasa real. Tentunya semua anak ingin kerja, bisa
meringankan beban ekonomi orangtua. Aku juga ingin menikah, itupun kalau ada
yang mau sama aku haha. Aku juga mau melanjutkan studi ke S2, kalau bisa dapet
beasiswa, keluar negeri sekalian.
Aku masih merasa haus untuk belajar ini itu. Masih ingin tahu
banyak hal yang belum gue ketahui. Masih merasa bodoh dan aku gak suka untuk
berada dalam kebodohan, karena itu aku ingin belajar. Aku harus belajar. Aku
butuh belajar.
Dan ketika dihadapkan permasalahan yang disebutkan di awal, aku
jadi berpikir ulang. Kenapa aku merasa ingin belajar? Kenapa aku harus belajar?
Dan kenapa aku butuh belajar? Dan ternyata jawabannya adalah kembali ke awal.
Awal yang diajarkan orangtua, tentang surga dan neraka. Tentang baik dan buruk.
Aku ingin jadi orang baik, yang memenuhi perintah-Nya dengan belajar. Teman-teman
juga pasti tahu, kalau di islam tuh banyak banget ayat-ayat Al-Qur'an, maupun
hadits-hadits yang meninggikan derajat orang-orang berilmu. Menyeru kita untuk
membaca, meperhatikan, berpikir.
Ada yang bilang menuntut ilmu itu dari kita lahir sampai kita meninggal. Ada juga yang bilang tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina. Kita disuruh belajar belajar dan belajar, dari kecil sampai besar. Dari yang deket-deket kita sampai sejauh manapun.
Kenapa kita disuruh untuk berpikir, belajar dan belajar? Supaya kita menyadari, betapa kebasaran Allah yang telah menciptakan dunia dan seisinya. Yang menciptakan kita dari entitas terkecil yaitu sel kalau dalam biologi, atau atom dalam kimia. Betapa semua hal di sekitar kita berkeseimbangan, berkesinambungan menciptakan harmoni yang bisa membuat kita sangat takjub. Betapa komposisi udara begitu seimbangnya sampai kalau kadar oksigen lebih atau kurang sedikit saja, bisa membuat hidup kita terancam. Dan banyak banget hal, yang ketika kita menyadari kebesaran-Nya lah kita menunduk, patuh, takluk, merendah pada Allah SWT.
sc : google
Membuat kita bersyukur, yang amat sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar di pagi hari. Beryukur, sekali lagi bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup kembali. Bersyukur, karena masih diberi waktu, untuk bisa kembali bersyukur pada-Nya. Masih diberi waktu untuk menjalanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan senang hati. Dengan ikhlas, dengan penuh kelegaan, dengan penuh rasa syukur.
Jadi kenapa aku belajar? Karena belajar adalah salah satu langkah menuju visi besarku, langkah yang mendekatkanku pada syurga-Nya. Yang kemudian dari visi besar, visi akhirat itu, aku bagi-bagi menjadi visi-visi kecil, yang aku tahu kemana akan melangkah.
sc : google
Misalnya nih, aku ingin banget jadi penyiar radio, untuk menebar
kebaikan. Untuk menebar motivasi bagi orang-orang yang mendengarkan. Aku ingin,
orang hanya mendengar kebaikan dari siaranku. Aku ingin siaranku bisa bikin
kita sama-sama berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Aku yang sudah punya
visi besar, ingin sharing terkait visi ini. Karena itu aku
belajar, aku mau tau banyak hal dari banyak sudut pandang. Aku selalu merasa
haus akan ilmu yang gaada habisnya. Supaya aku bisa relate dengan
banyak hal, dengan banyak orang dan kemudian bisa saling ajak menuju kebaikan.
Karena kebaikan itu gak bisa aku gapai sendiri, aku butuh kamu, butuh
banyak orang untuk sama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan agar mencapai
syurga-Nya bersama-sama. Salah satunya di tulisan ini, aku ingin mengajak kamu
untuk lebih berpikir ulang tentang visi besar lo.
Kata Gue : Gapapa
Mungkin, kamu gak setuju dengan pandanganku sekarang, gapapa. Gapapa kok, semua orang beda-beda. Punya sudut pandang masing-masing, cara pikir masing-masing.
But please, don't give up. Jangan menyerah untuk mencari visimu sendiri yang bikin kamu semangat terus, ke-trigger terus untuk terus belajar, belajar dan belajar. Cari visi kamu, yang bikin kamu haus untuk terus belajar dan ga pernah merasa cukup untuk tahu sekedar satu hal dari sudut pandang aja. Aku ingin, kamu juga menemukan motivasi yang cukup untuk membuatmu merasa butuh untuk belajar.
Dan di mana kita belajar? Jawabannya, kita belajar di mana aja, dan kapan aja. Sekolah emang lingkungan fisik untuk belajar, yang kita perlukan untuk lebih memfokuskan diri. Supaya ada target per-jenjang. Supaya ada lingkungan yang mendukung. Karena ketika di rumah aja, utamanya di kamar, godaan untuk rebahan aja tuh pasti muncul. Jadi aku berani bilang, perlu adanya lingkungan fisik untuk belajar seperti sekolah. Kita perlu sekolah untuk belajar. Tapi belajar itu gak hanya di sekolah.
Kata Gue : Penutup
Terakhir, aku ingin mengungkit kata-kata yang, pasti kalian juga sudah pernah membaca di suatu tempat lah
Orang bilang, jalanilah pengalamanmu seakan itu pengalaman pertamamu. Dan jalanilah harimu seakan itu hari terakhirmu.
Gak ada yang tahu, kapan kita akan mati. Kapan nafas ini akan berhenti berhembus, kapan mata ini akan berhenti terbuka, kapan jantung ini akan berhenti berdetak, kapan darah ini akan berhenti mengalir, kapan amal kita akan berhenti, kapan hidup ini akan berakhir. Dan sayang banget ketika sedang melakukan dosa dengan alibi 'alah dosa kecil ini' dan saat itu mati. Naudzubillah, jangan sampai itu terjadi ke kita ya ges. Karena itu, dengan ingat mati, cukup banget untuk bikin kita terus berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Cukup untuk membuat kita berpikir, kita harus lebih baik dari kemarin. Gak ada yang tahu, udah berapa gunungan dosa yang kita tumpuk, gak ada yang tahu, apakah pahala kita udah cukup untuk menghapus dosa kita yang menggunung, atau malah ibadah kita selama ini belum diterima, gak ada yang tau.
Karena itu, tetaplah berbuat baik.
sc : google
Gak sedikit orang yang hampir tenggelam, atau bahkan pernah tenggelam, dalam pahitnya keburukan. Masa jahiliyah, bisa dibilang. Aku juga pernah gelap. Segelap itu, sampai setiap kali teringat, rasanya ingin menangis mengingat betapa aku sebodoh itu untuk jatuh ke kegelapan itu.
Tapi ges, kita di masa ini yang menyadari itu, jangan menyerah dalam gelapnya air laut. Jangan lantas menyerah dengan keadaan dengan bilang 'gue udah terlanjur gelap'. Sedikit aja kamu lihat ke sekeliling, pasti masih ada tangan yang mau menolong, menghampiri, atau menunggu untuk dihampiri untuk sama-sama berenang sedikit demi sedikit menuju ke tepian. Lo yang dulu, menjadikan diri lo yang sekarang. Tapi lo di masa depan, ditentukan dengan tindakan lo sekarang. Jadi, ayo bangkit ges. Kita sama-sama berenang, sama-sama berusaha lepas dari kegelapan. Kita sama-sama belajar, untuk menjadi lebih baik dari kita yang dulu. Kamu mau kan, jadi teman seperjuanganku?
Tengkyu ges atas waktunya, sudah menyempatkan untuk mampir ke racauan pikiranku tentang belajar dan sudah membaca sedikit dari pikiranku ini. Semoga dengan membaca ini, kamu gak hanya menyadari pentingnya belajar, tapi lebih dalam lagi, kamu menyadari pentingnya untuk tahu apa alasan kamu belajar. Dan aku menulis ini juga bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk diri sendiri, yang mungkin akan sering lupa apa tujuanku. Semoga dengan ini kita sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dan ini beberapa referensi yang sangat bermanfaat ketika aku menulis topik ini, semoga bisa bermanfaat juga buat kamu :
REFERENSI
Tentang Cara Belajar Efektif
- https://www.akupaham.com/cara-belajar-efektif/
- https://www.sehatq.com/artikel/cara-belajar-efektif-menurut-para-psikolog
- https://www.youtube.com/watch?v=_hQm74PbME4
- https://youtu.be/n64eSzISISo
- https://en.wikipedia.org/wiki/Pomodoro_Technique
Tentang Kenapa Harus Belajar
- https://www.youtube.com/watch?v=86BddOHnr3Q&t=209s
- https://www.zenius.net/blog/13642/untuk-apa-belajar
- https://anakbertanya.com/kenapa-kita-harus-belajar-sudah-dijawab-di-mengapa-kita-harus-sekolah/
- https://www.youtube.com/watch?v=kYd0cCGBXaI
- https://www.youtube.com/watch?v=g5jWlYfWHxE
Tentang Menghadapi Burn Out
Kalau kamu penasaran, kenapa sih kok Misil sering banget ungkit-ungkit channel Youtube-nya Zahid? Bukan promosi atau apa sih, aku juga gak kenal secara personal dengan dia. Tapi karena yah kuakui, dengan melihat video dia, aku jadi semakin sadar. Jujur sih, aku salut sekaligus malu, secara umur diri ini lebih dewasa dari dia, tapi secara pemikiran terlihat banget kedewasaan, kematangan dia berpikir. Dan dengan lihat video dia, aku jadi ketagihan untuk terus produktif dan berbuat baik. Asli. Thankyou, Zahid.
Juga ilustrasi masa kelam, aku dapatkan dari gaya bahasanya Bang Fuadh Naim. Walau belum beli bukunya tapi judulnya ngena banget, Pernah Tenggelam. Kalau teman-teman ada rezeki, bisa banget lihat-lihat pemikiran Bang Fuadh yang mudah relate, khususnya untuk k-popers sih. Apalagi keuntungannya untuk dakwah, jadi dengan beli bukunya insyaa Allah jadi pahala untuk kamu juga.
Beneran Ditutup
Oke deh, sekian dari saya. Akhir kata, aku ingin bilang, gak ada yang bisa ngerubah cara pandang lo, kecuali diri lo sendiri. Dan di sini aku hanya sedikit sharing pandanganku yang aku harap bisa sedikit membuka pikiran teman-teman yang masih berpikir sempit tentang belajar. Dan aku juga terbuka untuk segala kritik, saran, pendapat, masukan dari teman-teman. Aku sangat berterimakasih kalau kamu bisa share pandang/insight lain dikolom komentar, karena itu bakal bermanfaat banget bagi aku yang masih dalam tahap belajar ini. Dan aku juga minta maaf untuk segala salah kata, itu asli dari diri sendiri, dan hal-hal baik tentunya hanya dari Allah SWT.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh






MasyaAllah tulisannya keren banget silmy, ku tidak masalah dengan panjangnya walaupun pertengahan ku rasa bosan (ya karena full teks sih) tapi, pas ku baca lagi masyaAllah banyak banget kata" yang langsung ngena dan asli keren banget tahu...
BalasHapusMungkin ada beberapa kesalahan teknis aja sih seperti konsistensi dalam penggunaan kata seperti diawal ada penggunaan kata 'pinter' terus kebawahnya menggunakan kata 'pintar' gitu aja sih...
Bismillah istiqomah terus ya dalam menebar kebaikan...
Alhamdulillah makasih banyak mia udah mampir ke pikiranku! makasih juga udah kasih masukan, semoga kita sama-sama menjadi lebih baik lagii
Hapus