Langsung ke konten utama

Jatuh untuk Bangun, hayu!

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hai guys, selamat pagi/siang/sore/malem, baca aja salah satu tergantung kapan kalian baca. Jadi sebelumnya aku mau tegesin di awal. Aku berniat menceritakan ini hanya untuk berbagi motivasi untuk temen-temen semua. Karena dari pengalaman ini, aku ingin semua juga merasakan yang aku rasakan. Bukan tentang rasa sakit dan terpuruknya, tapi yang lain, yaitu syukur. Syukur atas nikmat dari Allah atas segala yang udah hadir di hidup kita, walau mungkin selama ini belum kita sadari adanya.

Kurang lebih, pastinya fase hidup seseorang ada naik turunnya. Ada pasang surutnya, seperti ombak di laut. Ya yang aku percaya dan aku yakini, semua yang kita miliki saat ini hanya titipan dari Allah. Jadi harus siap kapanpun, kalau titipan itu diambil. Kurang lebih itu sih. Jadi kalau ditulis secara garis besar, fase hidup seorang Misil menjelang akhir jenjang putih abu kurang lebih begini :

1. Aktif di Olimpiade

Ini bisa dibilang fase emas kehidupan SMA-ku. Foto yang kamu lihat di atas adalah foto rombongan final KMNR tahun 2017 di IPB dari SMA-ku. Alhamdulillah, aku menjadi salah satunya, walaupun di sekolah aku termasuk siswa biasa aja. Apalagi, sistem pemilihan siswa kelas di sekolahku itu, dari IPA 1 ke IPA 6 diurutkan dari nilai tertinggi. Aku kelas IPA 2, jadi di kelasku terkumpullah para orang-orang pintar, kecuali aku haha. 

Menjelang akhir kelas 2, aku mulai aktif mengikuti olimpiade. Yah aku tahu, agak telat sih. Iya, rasanya juga agak menyesal, tapi apalah gunanya menyesal gitu kan. Daripada menyesal, mending kita manfaatkan waktu yang ada. Walau belum pernah sampai yang juara tiga besar atau bahkan lima besar, tapi pengalaman-pengalaman ini bermanfaat banget bagiku ke depannya.

Lolos semifinal aja rasanya udah seneng banget. Bisa ke kota sana sini, hampir setiap weekend adaa aja kota yang didatengin. Dari Malang, sampai Jakarta. Dan bukan sekali dua kali, aku mengambil dispensasi di Hari Senin-nya. Karena kebanyakan olimpiade berlangsung di Hari Sabtu dan Minggu, 'kan. Walau kemungkinannya kecil untuk lolos ke final tapi aku masih stay di kota itu sampai Minggu, buat jaga-jaga, katanya. Karena itulah, anggapannya aku masih capek,  jadi Seninnya bisa izin, haha. Itu kabar baik sih bagiku, mengingat aku juga paling gak tahan upacara bendera. Pasti kalau ga bolos di keputrian, dulu sering banget ga kuat ikut upacara sampai akhir. Jadi di tengah-tengah upacara, aku jalan ke belakang barisan gitu kan, ngadu ke PMR kalau pusing, lalu dianter ke UKS. Jadi kangen SMA deh, haha.

Bepergian ke luar kota pun dibayarin sama sekolah, karena hitungannya kalau sudah lolos semifinal, pembiayaan ditanggung sekolah. Entah nanti hasilnya juara atau nggak. Emang terbaik banget dah sekolahku, bener-bener mendukung anak didiknya untuk berprestasi. SMAPTA MANA SUARANYA? Haha. Dan Bu Nuri, wali kelasku di kelas dua bilang, anak-anak kelasku ini yang paling banyak ambil duit untuk lomba-lomba, haha.

Sedikit cerita, jadi memang, kebanyakan bidang lomba/olimpiade yang aku ikutin itu bidang matematika/sains. Tapi ada satu bidang yang bahasa jepang. Random, asli. Jadi, dulu sensei-ku meunjuk dan menyarankan aku untuk ikut lomba yang namanya kikikakitori, salah satu cabang lomba dari Isshoni Tanoshimimashou atau IT yang diadakan oleh FIB Universitas Brawijaya. 

Nah, sedikit sharing lagi nih ges, menurutku kunci pentingnya bisa menguasai suatu bidang itu ya ada kesukaan, interest, dan ada sugesti di awal, ‘gue harus bisa’. Sugesti di awal ini penting banget untuk ditanamkan, karena dengan ini, alam bawah sadar kita juga menganggap kita bisa dan tentunya dengan izin Allah, kita jadi beneran bisa. Tapi untuk faktor ‘kesukaan’ ini sedikit terpatahkan sama temen gue, Nanda, anak IPS yang benci banget pelajaran ekonomi tapi dia sampai terpilih mewakili sekolah untuk ikut olimpiade ekonomi haha. Jadi ceritanya dia tuh benci, gak suka sama pelajaran ekonomi. Makanya dia gak mau berlama-lama di pelajarin itu. Jadi dia bener-bener belajar untuk menghindari remedial. Eh taunya kebablasan sampai-sampai ditunjuk untuk ikut olimpiade ekonomi. Yaa setidaknya untuk faktor ‘sugesti’ di sini berpengaruh banget. Karena dia menanamkan di pikirannya ‘gue kudu bisa, gue gak mau ikut remedial’ dan jeng jeng bisa dengan izin Allah. Kalau kamu baca tulisan ini, halo Nanda! Kamu menginspirasiku!

Balik lagi, aku termasuk kategori yang beruntung, karena sejak SD, aku emang seneng nonton anime di tv kaya naruto, inuyasha, conan, dragon ball. Dan di SMP, udah sedikit-sedikit menguasai huruf jepang.  Aku emang tertarik sama huruf aneh-aneh kaya huruf jepang (hiragana, katakana, kanji), huruf korea, atau aksara jawa pun gue gampang hafal. Tapi aksara sunda ga hapal hapal kunaon nya? :)

Aku mengikuti lomba itu berdua dengan temanku, Nella. Sampai akhirnya harinya tiba. Dan seperti yang diduga, penyisihan aja ga lolos haha. Yaiyalah, kita berdua anak IPA, yang masih belum segitu terbiasanya dibanding anak bahasa yang emang udah disiapkan untuk ikut lomba ini. Walau sebenernya gak bisa dijadiin alesan juga sih, tapi serius deh, gak tau aku aja yang ngerasa atau gimana, tapi speakernya itu gresek gresek banget, ga kedengeran yang dibacain, haha.  Jadilah sisa hari itu kita keliling-keliling beli jajan, foto-foto, mumpung di UB, ya kan. Walau aku sih ga ada minat sama sekali masuk kampus itu, haha.

Dan diantara lomba-lomba yang aku ikuti, ada satu yang cukup berkesan karena saat itu aku berangkat sendiri, bener-bener sendiri, ke kota orang, yang sebelumnya belum pernah aku datangi.  Dan ketemu banyak banget orang baik yang bikin aku bersyukur banget. Yaitu pas aku lomba untuk FIMNAS ke Semarang. 

Sebenernya tiap perjalanannya, pengalaman itu bener-bener berharga untuk aku. Dan ada aja pengalaman yang menarik untuk aku ceritain, tapi mungkin lain kali aja yaa kalau kalian juga tertarik ehe.

Lanjut, begitulah hampir tiap minggu gue ikut penyisihan ini itu, lanjut semifinal ini itu, sampai suatu hari aku sakit. Mungkin karena terlalu sering pergi-pergi tapi gak jaga kondisi tubuh apa gimana. Aku awalnya berpikir ya udah, paling penyakit biasa. Emang sering terjadi, kalau kondisi tubuh gak terjaga, demam naik turun sesuka hati gitu. Dan emang, aku ada keturunan anemia, jadi pusing-pusing udah biasa.

Tapi tanpa sadar, sakit-sakit yang aku anggap ‘ringan’ itu, ternyata bertumbuh jadi cikal bakal penyakit yang bikin drop, sampai ga masuk sekolah sebulan

2. Drop Sebulan, Bikin Drop Mental.

Aku gak lebay, ketika mengetik drop sebulan ini bikin drop mental. Sakit-sakit ringan itu makin sering terjadi, dan puncaknya di liburan semester lima. Tiap malam sering keringat dingin, tidurku gak nyaman sama sekali karena keringat dingin itu. Demam naik turun sesuka hati. Pusing, sampai lemas banget. Ada yang sakit, tapi aku gatau entah itu bagian dada, bagian perut, ada aja yang sakit. Sakitnya kaya ditusuk dari dalem, beneran, sakit banget.

Sebenernya, ibu udah ada firasat tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi, berusaha aja berprasangka baik.

Sebenernya aku gak suka, bener-bener gak suka ke dokter. Makanya aku jarang kasih tau ibu kalau ada sakit. Tapi karena makin lama ga sembuh-sembuh, kondisi mengharuskan aku ke puskesmas. Dikarenakan peralatan yang kurang memadai di puskesmas, di sana hanya ketahuan kalau Hb-ku rendah, sampai setengah dari normalnya Hb orang sehat. Normalnya, orang sehat Hb nya kisaran 15. Tapi ketika dicek, Hb-ku 7. Itu pun hasilnya baru keluar sekitar 2-3 hari kemudian. Jadi dari situ, aku dikasih obat penambah darah. Kenapa ga tranfusi? Aku juga lupa waktu itu kenapa.

Tapi karena ga begitu banyak perubahan dan belum menjelaskan alasan dari sakit lain yang aku rasakan selain lemas, aku dirujuk ke rumah sakit. Kakak dari ibu gue (budhe) dan adik dari bapak gue (bulek) adalah dokter. Suami sepupu gue juga dokter. Diagnosis mereka juga sama seperti dugaan ibu. Jadi, untuk memastikan, aku harus pergi ke rumah sakit. Akhirnya kita ke rumah sakit. Ke bagian organ dalam kalau ga salah. Tapi karena ga menemukan apa-apa, ibu juga coba mengutarakan dugaannya. Akhirnya aku dipindah dari bagian organ dalam, ke bagian pernapasan. Setelah itu, untuk memastikan diagnosis, dirujuk lagi ke rumah sakit sebelah untuk di-rontgen. Ibu juga udah bilang ke gue untuk menyiapkan hati, menerima kemungkinan terburuk yang terjadi.

Dan bener aja, dugaan ibu bener. Aku kena TBC (Tuberkulosis). Kalau yang orang-orang tau, termasuk gue sendiri, gejala dari penyakit ini ya batuk berdarah. Sementara, aku ga menunjukan gejala itu, belum. Batuk berdarah itu gejala terparah dari penyakit ini. Jadi aku termasuk beruntung karena ketahuan sebelum penyakitnya separah batuk berdarah. Ibu memang ada pengalaman dengan TBC, makanya dugaannya kuat. Bukan, bukan ibu yang kena, tapi kakakku. Kejadiannya sekitar 2-3 tahun sebelum aku terpapar. Apakah aku tertular kaka? Yes, maybe. Tapi kalau tertular kaka, bukankah harusnya lebih cepet? Sedangkan ini jaraknya 2-3 tahun. Kurang paham juga, kok bisa kena. Mungkin sih, mungkin bakteri itu udah masuk tapi daya tahan tubuhku masih kuat saat itu. Jadi gak langsung menginfeksi. Dan ketika daya tahan tubuh ini melemah karena sering pergi-pergi dan kurang menjaga kondisi tubuh, jadi lebih gampang terkena penyakit. Mungkin.

Karena penyakitnya udah ketahuan, akhirnya aku harus menjalani rawat jalan, yang gak tahu sampai kapan. Jujur, pas hasilnya keluar, rasanya bener-bener drop secara mental. Sebelum pemeriksaan, aku satu kamar sama adik perempuanku. Dan dari keluar hasil itu, aku bener-bener takut aku menularkan ke yang lain. Aku pindah kamar ke kamar tengah yang sebenernya itu kamar adik laki-lakiku yang lebih sering tidur di sofa karena sofa ruang tamu emang lebih empuk daripada kasur di kamar tengah itu. Dari pindah kamar itu, aku bener bener gak mau diganggu, gak usah masuk kamar kalau ga ada keperluan. Ketika ketahuan anemia dan Hb rendah, itu masih bisa disembuhkan dengan makan yang bisa meningkatkan Hb, kurasa. Tapi ketika ketahuan ini, aku gak tahu gimana harus bersikap. Aku, merasa, aku ini monster. Monster menyeramkan yang bisa bikin orang lain celaka. Masker setia setiap saat. Tempat makan disendirikan. Sikat gigi dikasih tempat sendiri.

Dan sepertinya karena terbawa perasaan kekanakanku jaman labil SMA, aku mulai membanding-bandingkan perlakuan ibu ke aku dengan perlakuan ibu ke kaka yang sakit TBC juga sebelumnya. Bukan sekali dua kali aku menangis. Entah menangisi apa. Karena perasaan iri ini, merasa kurang diperhatikan, merasa sedih karena harus kena penyakit ini, merasa takut jadi monster, menularkan ke adik-adik.

Ibu juga sebenernya perhatian sama aku. Dari ketahuan nya penyakit itu, aku harus kontrol ke puskesmas tiap minggu. Makan obat tiap hari. Vitamin B juga yang aromanya ga enak. Di cek dahak tiap bulan. Dan walau ada urusan mendesak, ibu tetep mengusahakan untuk nemenin aku kontrol di puskesmas. Paham, anaknya bener-bener gak nyaman dengan puskesnas. Belum lagi anemiaku juga harus diobatin. Berbagai makanan ibu jejalkan. Makan telur, sehari minimal 4. Belum lagi jus buah bit yang menurutku rasanya.. kaya tanah. Kambing, sapi, daging-dagingan atau makanan apapun yang dirasa bisa menambah Hb dibeli walau saat itu perekonomian keluaga lagi kurang stabil. Makanan apapun yang aku mau, dibeliin, karena mumpung mau makan. Paham kan, kalau sakit itu nafsu makan turun. Jadi ketika aku mengutarakan mau makan apa, langsung dibeliin. Dan itu pertama kalinya, aku makan sate padang setelah sekian lama.

Seperti biasa, di akhir tahun, keluarga besar dari pihak bapak, utamanya mbah selalu ke rumah di kota ini. Dan bulekku yang dokter juga mendukung kesembuhanku tentunya. Dengan koneksinya, membantu ibu untuk periksa gue ke rumah sakit, kontrol kayanya waktu itu, lupa juga. Dan dari sakit ini, aku bisa tahu golongan darahku! Haha. Iya, aku sebelumnya belum pernah cek golongan darah, jadi aku gak tau golongan darahku apa. Setidaknya ada hal yang bisa membangun mood-ku saat itu. Kaka pertama yang pulang juga tidak terlalu terasa menyebalkan. Biasanya setiap pulang ada aja tingkah menyebalkan. Jadi sedikit banyak ini membangun mood. Membangun semangatku.

Aku juga perlahan bangkit, perlahan berusaha membangun mood, menata hati, membangun sugesti seperti yang aku lakukan saat belajar. Aku bangun sugesti bahwa aku harus sembuh. Dan di saat aku lagi membangun mood itu, gak kerasa liburan udah mau berakhir.  Tanpa disadari, sekolah udah mau memulai semester terakhirku.

Berhubung dengan adanya penyakit ini dan aku memang masih lemes karena Hb-ku baru meningkat sedikit, jadi hari pertama semester akhir aku lewatkan. Begitu juga hari-hari selanjutnya di minggu pertama. Aku gak bilang ke temenku aku sakit apa, karena aku takut. Guruku juga hanya dikasih tahu ibu kalau aku sakit, tanpa memberi tahu secara detail, aku sakit apa. Semangat yang udah kubangun rasanya kalah lagi sama rasa takutku.

Merasa jadi monster, dan itu bener-bener rasa yang menyeramkan. Aku bener-bener takut untuk masuk sekolah. Aku takut menularkan penyakit ke temen deketku. tapi aku juga takut dijauhi. Aku takut untuk ketemu orang-orang. Anemia ini berangsur-angsur membaik tapi TBC tentunya ga se-sebentar itu untuk disembuhkan. Suatu saat, ibu kemudian bilang ke guruku kalau masih nunggu hasil cek dahak. Dari situ wali kelasku bertanya ke anak sekelas, penyakit yang butuh cek dahak itu apa. Temen-temen menebak-nebak sendiri. Aku juga tau ini dari temen deketku di kelas. Dia tanya, aku sakit apa. Dan akhirnya aku cerita ke dia, yang aku percaya. Tapi ya sepertinya, temen-temen yang lain udah berspekulasi sendiri kira-kira sakit apa si Misil sampai dua minggu ga masuk.

Selang seminggu, aku dapet kabar kalau temen sekelas mau ngejengukku. Aku panik, malu dengan keadaan diri, aku gak mau ketemu orang-orang, aku takut jadi monster, aku takut dengan diri sendiri. Akhirnya hari itu, aku bertemu lagi dengan temen sekelasku. Aku ga banyak bicara, lebih banyak mendengar. Tapi aku terharu dengan temen sekelasku yang mau menjengukku, makasih banyak. Sedikit banyak, mereka menumbuhkan lagi semangat di dalam diriku. Salah satu temenku, kakanya dokter. Dia bilang, ‘Udah, ga usah takut. Percaya, temen-temenmu ini daya tahan tubuhnya tinggi. Kamu cukup pake masker dan rutin minum obat’ dan emang sejak sakit ini pake masker udah jadi kebiasaan bagi gue.

Dari titik ini, aku mulai bangkit lagi. Gimanapun, sekolahku harus lanjut, tinggal satu semester lagi. Kalaupun nanti setelah ini gak kuliah gapapa, tapi sekolahku harus selesai dulu. Selang seminggu, kelasku kebagian giliran foto untuk album angkatan. Teman-teman sekelasku milih untuk foto di suatu tempat wisata di daerah kabupaten,  dekat Kota Blitar. Memang, tempatnya bagus banget masyaa Allah. Dan iya, aku ikut dalam sesi foto album itu. Dan minggu-minggu setelahnya pun aku mulai kembali masuk sekolah, tentunya dengan masker terpasang setiap saat. Kebiasaan pakai masker ini bahkan terbawa sampai saat ini. Aku jadi kurang percaya diri kalau gak pake masker.

Ketinggalan pelajaran satu kali aja, rasanya berat bagi aku, yang bener-bener seringnya nyatet ketika guru menjelaskan. Dan ini ga masuk sebulan. Ketinggalan pelajaran banyak, di semester akhir. Tapi gapapa, aku tetap berusaha, setidaknya lulus dengan nilai yang tidak memalukan, cukup memuaskan. Aku gak berharap banyak untuk masuk kuliah. Karena sebelum sakit pun, aku udah bilang ke ibu, kalau ga kuliah pun gapapa. Sebagai anak ke empat dari delapan bersaudara, tentunya banyak pembiayaan ini itu. Ekonomi istirahat sebentar gapapa. Aku pun ga tahu banyak tentang jalur-jalur masuk kuliah selain SNMPTN, SBMPTN, atau tes kedinasan. Dan dari awal SMA, aku hanya minat ikut kedinasan di STIS. Tapi saat itu, aku pasrah yang bener-bener pasrah

3. Kuliah Gak Niat

Seperti yang aku tulis sebelumnya, aku bener-bener buta soal dunia perkuliahan, jalur masuknya, bahkan aku baru tahu ada politeknik, atau poli-poli yang lain itu setelah aku ikut SBMPTN. Kebetulan, nilai raporku cukup untuk ikut SNMPTN. Walau gak yakin bakal lolos juga, karena serba pas-pasan.

Aku, dalam memilih jurusan, bukan yang penting dapet. Kalau gitu caranya, kemungkinan ada rasa gak puas dan tetep cari-cari cara lain walau udah dapet di SNMPTN. Makanya di SNMPTN, pilihanku gak tanggung-tanggung. Aku memilih kedokteran di pilihan pertama, dan pendidikan matematika di pilihan kedua. Sempet dipertanyakan guru BK juga, apa yakin dengan pilihan ini karena ga terlalu sejalan, dokter sama pendidikan matematika. Aku memang sempat bercita-cita jadi dokter. Agak aneh sih mengingat aku sangat anti ke dokter tapi ingin jadi dokter. Dan bener dugaanku, aku gak lolos SNMPTN.

Sebenernya dari sini rasanya udah pasrah, tapi ibu masih mendukung untuk ikut SBMPTN. Daftarlah aku untuk SBMPTN dengan persiapan yang seadanya, berbekal zenius dan buku-buku yang aku pinjam dari teman-teman yang udah lulus SNMPTN. Terimakasih teman-temanku! 

Keadaanku saat itu masih sakit TBC, tapi sudah mulai lebih ringan. Sebenernya, ikut SBMPTN pun aku bingung mau ambil jurusan apa, karena interest-ku banyak. Tapi akhirnya aku memilih yang benar-benar aku minati. Ketiga pilihanku gaada yang akan membuatku kecewa, aku yakin. Bahkan ga keterima di mana-mana pun bagiku adalah suatu hal yang membahagiakan, aku terima. Pilihan pertama dan kedua di ITB, pilihan ketiga gue di UM (Universitas Negeri Malang). Kenapa UM? Karena kaka keduaku yang kuceritakan sebelumnya juga kuliah di UM. Udah beberapa kali juga aku ke Kota Malang untuk ikut lomba dan lumayan familiar dengan tempatnya. Pikirku, setidaknya kalau di UM ada saudara atau keluargaku.

Dan tibalah saat pengumuman SBMPTN. Aku ga berharap banyak, serius. Jujur sebenarnya aku hanya ingin istirahat dulu aja, memulihkan diri. Bapak dan om ku yang di Bandung bener-bener berharap aku keterima di ITB. Mereka lulusan ITB. Om ku bahkan cerita, beliau dapat mimpi kalau aku diterima di ITB dan berangkat ke Bandung bareng beliau. Tapi takdir berkata lain.

Mbahku berharap aku kuliah di UM aja, karena dinilai lebih dekat dari tempat tinggalku sekarang, jadi lebih terkontrol. Karena aku juga belum pulih sepenuhnya kan. Dan bener aja, aku diterima di UM. Kalau bapakku bilang, do’a bapak kalah sama do’a mbah yang ingin cucunya di UM aja. Sebenernya aku ingin bilang, aku gausah kuliah dulu aja. Tapi, aku ga sanggup. Aku ga sanggup menghilangkan rona bahagia bapak, ibu dan mbah. Akhirnya, aku menerima takdir ini.

Menjelang daftar ulang, diwajibkan menyertakan surat keterangan sehat. Di sini aku agak bingung. Karena aku masih harus cek dahak untuk memastikan gue sehat dan hasilnya masih keluar pekan depannya lagi. Tapi alhamdulillah, setelah daftar ulang, cek dahak terakhir gue menyatakan gue sembuh total dari penyakit TBC. Bener-bener rasanya bahagia. Akhirnya setelah pengobatan yang kurang lebih 6 bulan, gue dinyatakan negatif TBC.

Memang, terkadang nikmat sehat ini kurang kita sadari kalau ia adalah nikmat paling hebat, dan paling bikin bahagia. Kadang kita kurang bersyukur, kurang menjaga sehingga ketika sakit baru menyadari nikmatnya sehat. Bahwa nikmat sehat itu bener-bener nikmat yang harus disyukuri adanya.

Akhirnya dengan seadanya, aku mulai kuliah. Sebenernya ada lagi keraguan mucul ketika aku ga dapet bidikmisi. Tapi ibu keukeuh, aku harus kuliah, katanya. Masalah biaya bisa dicari. Setengah hati, aku pun mengiyakan.

4. Peraih IPK Tertinggi se Prodi

Aku berkuliah di jurusan matematika. Kalau ada yang nyepelein kaya ‘halah matematika doang’, mungkin harus ngerasain dulu masuk sini. Kebanyakan orang bilang, kaget dengan jurusan matematika yang ga sesuai dengan ekspektasinya. Tapi aku pribadi, karna ga mengekspektasikan apa-apa, masuk hanya berdasar cinta sama matematika, jadi ga begitu kaget kaya temen-temen lain.

Sebelum masuk, kita semua dibagi kelas, tapi setelah dibagi kelas malah ada placement test. Kukerjain sebisaku aja karena aku juga belum banyak belajar, masih adaptasi sama lingkungan kos. Oh iya, aku dan kakakku ga satu kos. Kakakku mondok sambil ngajar gitu, jadi aku ditempatkan di salah satu kos muslimah yang masih ada hungannya sama pondok dia. Nah setelah placement test ini kelasnya dibongkar lagi, ternyata aku pindah ke kelas bilingual, dengan meraih nilai tertinggi di placement test. Aku mengucap syukur alhamdulillah, atas apa yang aku dapet dan menganggap, mungkin ini sinyal baik untuk ke depannya.

Seperti yang kita tahu, di tiap jurusan itu biasanya ada himpunan mahasiswa (hima) yang kegiatannya untuk mahasiswa baru (maba) itu banyak banget. Belum lagi seminar-seminar lainnya. Sebagai maba yang masih excited dengan dunia perkuliahan, kebanyakan ikut kegiatan ini itu, seminar ini itu, workshop ini itu. Termasuk temenku yang ngajak aku juga. Dan tiap ada kegiatan yang butuh perwakilan kelas, di kelasku hampir ga ada yang mau. Akhirnya aku terus yang mengajukan diri. Dalam satu semester itu bisa dihitung jari berapa kali aku pulang ke kota. Dibanding teman-teman lain yang rumahnya juga di Jawa Timur, aku termasuk jarang pulang. Aku sendiri sebelumnya udah berpengalaman keluar kota, jadi ga begitu sedih atau merasa homesick terpisah dari keluarga beberapa bulan. Walau kadang ada rasa pengen, ketika mbak kos yang sekamar denganku ditelponin ibunya terus, temen kos di kamar seberang video call sana sini, hapeku sepi haha. Tapi ya yaudah gapapa. Anak ibuku banyak, jadi ya banyak yang harus diurus.

Matakuliah (matkul) awal-awal, masih ada korelasi sama pelajaran SMA, jadi sedikit banyak aku ga begitu kesulitan. Hanya saja, matkul awal-awal ini bener-bener dasar yang harus kuat biar ke depannya juga paham. Aku coba mengikuti sebisaku aja. Sebisa mungkin aktif, sebisa mungkin mengerjakan dengan benar, sebisa mungkin. Dari pengalamanku di semester satu, aku rasa ada beberapa matkul yang merasa aman, utamanya di Landasan Matematika. Dosen matkul ini bener-bener mengajarkan betap indahnya matematika. betapa kalimat-kalimat matematika itu harus dirangkai dengan cantik sedemikian rupa. Aku jatuh cinta, untuk kesekian kali, lagi dan lagi dengan matematika.

Dan akhir semester tiba, aku deg-degan dengan KHS pertamaku. Alhamdulillah, aku dapet IP 3.9. Sebenernya ga nyangka banget dapet IP sebegini tingginya. Eh tinggi kan? Aku sendiri juga pada saat itu kurang tau, temenku dapet apa, berapa. Dan pastinya juga banyak maba maba lain yang pasang status wa tentang 'nilai bukan segalanya'. Iya, aku juga paham tentang itu. Tentang nilai yang hanya sebatas hitam di atas putih belum tentu bisa jadi penilaian final. Jadi, aku diem aja sambil introspeksi diri, kira-kira matkul satu semester itu aku pantes apa nggak dapet nilai ini. Kalau dinilai pantes ya aku harus membuktikan kalau aku memang pantes dapet nilai segini. Sebelumnya, aku juga punya temen kenalan dari grup SBMPTN, dia anak pendidikan matematika jadi kita ga satu prodi. Kita lumayan deket dan dia juga pinter banget. Di akhir semester ini, kita saling tanya nilai. Biasa, maba kan. Pasti masih excited gitu sama IP pertama yang muncul. Dan IP dia 3.91. Jadi pikiranku waktu itu, temen-temen gue mungkin IP nya ya sekitaran itu, 3.9 atau 3.8. Yaudah, kupikir, paling IP-ku segitu biasa aja, ada banyak yang lebih kali dariku.

Di awal semester 2, aku sudah terdaftar sebagai anggota hima. Iya, aku memang tertarik ikut hima karena aku merasa, masih kurang banget softskill-ku. Dan saat itu sebelum first meet hima, ada pertemuan orangtua/wali murid. Sebelum harinya, ketika aku sampaikan undangan itu ke ibu, ibu juga ga menjanjikan datang karena ibu juga ada orderan sana sini. Tapi pagi itu, aku dapat pemberitahuan untuk anak-anak yang namanya tertera dimohon membawa orangtuanya karena akan dianugerahkan peraih IPK tertinggi. Dan salah satu namanya adalah namaku. Namaku dong!

Aku speechless. Ya, aku bersyukur banget. Ini seakan menjadi tanda-tanda awal yang baik. Dan semoga aja kuliahku ke depannya bisa mempertahankan nilai ini. Bukan hanya nilai, tapi pemahamanku terhadap matkulnya juga.

Tapi aku agak telat ngasih tau ibu. Aku juga ga berharap banyak untuk ibu bisa dateng. Dan ternyata itu jadi penyesalan terbesarku tahun itu. Mendengar kabar itu, ibu langsung cari pemberangkatan bis ke Malang yang paling cepat. Mengingat itu hari jumat, jalanan agak macet. Aku udah menunggu dengan cemas bareng kakakku. Aku juga berharap ibu bisa naik ke panggung. Tapi apa daya, ketika namaku dipanggil, ibu belum datang. Dari situ, aku menyesal yang sangat menyesal. Karena membuat ibu kecewa, ga bisa dengan bangga naik ke podium bareng anaknya. Dan sejak saat itu, aku bertekad untuk membawa ibu naik panggung dengan menjadi mawapres. Bismillah aja.


   

Sebenernya, banyak juga selentingan yang seakan menjatuhkan, salah satunya : 

‘Buat apa ipk tinggi tapi gaada kemampuan? Nilai hanya nilai hitam di atas putih tapi itu ga penting untuk dunia kerja. Karna nanti yang lebih dinilai ya pengalaman kamu’. 

Ini ada benernya, tapi ga sepenuhnya benar. Aku paham banget, segala kemampuan gabisa dinilai sebatas nilai hitam di atas putih. Tapi bukan berarti nilai ga penting. Nilai dan softskill, sama-sama penting. Karena itulah, karena aku merasa bahwa aku masih kurang, makanya aku memutuskan ikut hima. Untuk cari pengalaman.

Dan pesanku untuk teman-teman, tolong banget. Kalau ada temannya yang meraih sesuatu yang bisa dibanggakan, jangan dijatuhkan, tapi diingatkan baik-baik dan didukung. Untuk teman-teman juga yang mencapai suatu penghargaan, jangan terlalu merasa di atas awan, karena di atas awan masih ada awan. Ingat dengan prinsip padi. Semakin berisi semakin menunduk. Nah ketika kita meraih suatu penghargaan, kita patut berbangga, bersyukur, tapi jangan lupa tetap rendah hati. Masih ada teman-teman terdekat kita yang mungkin merasa sedih dengan nilainya. Kita bisa ajak bareng-bareng temen kita untuk berjuang bersama.

Intinya di sini, kita ga bisa ngeliat orang hanya dari tampak luar, lalu kita sembarangan nge-judge ini itu. Semua punya proses masing-masing, yang belum tentu bisa dibandingin satu sama lain. Tanpa menjatuhkan atau tanpa merendahkan yang lain, mending kita saling dukung dan saling menghargai. Semua punya saat terpuruknya masing-masing. Aku, dengan pengalaman sakit yang sampai ga kepikiran untuk kuliah, ketika mendapat kesempatan kuliah, walau awalnya merasa cape dan mau istirahat dulu aja, tapi ini bikin aku bahagia, banget. Apalagi sampai dapet penghargaan itu berasa berharga banget bagiku. Jadi, aku meerasa sayang, sama yang kuliahnya males-malesan, padahal di luar sana banyak yang ga bisa ngerasain jenjang kuliah seperti yang kita rasain.

Dengan nulis ini, aku bermaksud membagikan kebahagiaan yang aku rasakan, rasa syukur luar biasa yang aku rasakan karena jalan indah-Nya. Yuk, yang kuliah semangat. Jalan kita masih panjang, waktu luang bisa kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk masa depan kita. Yang belum dapet kuliah juga tetep semangat dan jangan menyerah untuk mengejar mimpi.Tetap produktif dengan jalan apapun yang kamu pilih. Karena apa yang kita pilih sekarang, tindakan apa yang kita lakukan sekarang, menentukan jadi apa kita di masa depan. Saling dukung ketika ada yang mendapat penghargaan, saling hibur ketika ada yang terpuruk, saling mengingatkan kapanpun. Sekian ya ges, aku makan pagi dulu :)

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Harus Belajar?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ges! Sebelumnya, aku mau ucapkann, untuk kamu yang sudah sampai ke postingan ini,  selamat!  Karena dengan hadirnya kamu di postingan ini, kamu satu tahap lebih maju. Yaitu ingin tahu,  apa pentingnya belajar  dan di sini aku akan bahas lebih dari itu.  Postingan ini dibuat terkhusus adik-adik tersayang dan teman-teman yang kehilangan motivasi belajar. Dan mungkin jadi bingung sendiri, kenapa juga kita harus belajar? sc : pinterest Dari Teman Postingan ini diawali dengan pertanyaan yang kerap kali aku dapatkan dari teman-teman, yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa tulisan ini dibuat, yaitu : Emang sih ya, yang namanya semangat belajar tuh ada aja naik turunnya, ada pasang surutnya yang bikin kita berpikir ' okay, I will take a rest now'  dan merasa perlu untuk ikut kegiatan-kegiatan yang nge- charge  semangat kita untuk belajar lagi.  It's okay , wajar kok untuk merasa jenuh...

Mie Pedes yang Wajib Lo Coba!

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, haloo ges Kamu suka pedas? Atau, gak tahan pedas tapi suka untuk keluar zona nyaman dengan coba-coba makanan pedas?  Rasa pedas ini memang menantang. Walau sebenarnya secara ilmiah, pedas bukan rasa tetapi tanda lidah kita teriritasi dengan pedasnya makanan yang kita makan. Tapi tidak memungkiri, pedas ini sering membuat orang ketagihan. Kebanyakan penikmat pedas bahkan merasa makanannya kurang sempurna kalau tidak ditambah sesuatu yang pedas, setuju? Bicara tentang makanan pedas, tentunya gak bisa lepas dari mie pedas. Dari mie instan, sampai mie olahan ala tempat makan, banyak tempat makan yang menjadikan pedas sebagai ciri khas mereka. Berlomba-lomba mengunggulkan dengan pedas khasnya, juga membuat orang-orang tertantang dengan adanya berbagai level mie pedas. Mie instan tentunya jadi pilihan paling ekonomis, ketika ingin mengonsumsi mie pedas tapi kantung sedang kritis.  Nah untuk kamu penikmat pedas, di sini ada beberapa reko...